Berkata Baik atau Diam
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya berkata yang baik atau diam” (HR. Syaikhani dan Ibn Majah)
***
LISAN seperti pisau. Ia bisa bermanfaat, juga dapat membahayakan. Dengan lisan, seseorang dapat bertegur sapa, memuji, dan mengajari. Dengan lisan, ia bisa menyuruh berbuat kebaikan dan melarang melakukan kemunkaran. Amrun bi al-ma’ruf wa nahyun ‘an al-munkar. Tetapi karena lisan pula, tak jarang orang yang celaka.
Lisan dengan ketajamannya itu kerapkali melukai orang lain, juga pemiliknya sendiri. Banyak perkelahian yang berawal dari kerja lisan. Apakah karena bicara salah atau akibat salah bicara. Oleh karena itu, tak heran jika dikatakan bahwa keselamatan manusia terletak pada kemampuannya memelihara lisan. Salamah al-insan fi hifzh al-lisan.
Mengingat bahaya lisan demikian, pantas Rasulullah saw wanti-wanti kepada ummatnya agar pandai memelihara lisan. Hal tersebut sebagaimana diterangkan dalam beberapa hadisnya. Bahkan dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari Muslim dan Nasai disebutkan bahwa seseorang dikatakan Muslim, jika orang lain selamat dari keburukan lisannya. Al Muslim man salima al-muslimun min lisanihi wa yadihi.
Kejahatan lisan itu banyak sekali. Hujjatul Islam Imam Ghazali (w. 505 H./ 1111 M.), dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa sekurang-kurangnya ada dua puluh bahaya lisan. Di antaranya adalah dusta, ghibah, menghasut, fitnah, saksi palsu, sumpah tidak benar, mencaci maki, dan mengamini kebohongan yang diceritakan orang lain. Bahkan kata Yusuf Qardhawi, ada ulama yang mengatakan bahwa bahaya lisan itu hingga mencapai 70 macam.
Agar lisan tidak melakukan kejahatan seperti itu, maka ia harus dipelihara. Lisan hanya boleh mengatakan sesuatu yang baik dan benar. Adapun jika tidak bisa berkata baik, maka hendaknya diam saja. Demikian nasihat Baginda Nabi, seperti dinyatakan dalam hadisnya, yang dikutip di awal tulisan ini.
Diam memang cara paling mudah untuk menghindari bahaya lisan. Untuk diam, seseorang tidak memerlukan keterampilam khusus. Satu-satunya yang diperlukan adalah dia tidak menggunakan lidahnya. ‘Diam’, kedengarannya mudah. Tapi praktiknya tidak semudah teorinya. Mungkin terlalu banyak ide dalam kepala manusia yang perlu dikomunikasikan. Oleh karena itu di mana pun dan kapan pun orang selalu berkata-kata.
Senyatanya, kita bukan saja mesti menghindari pembicaraan yang bermuatan dusta dan menusuk hati. Melainkan harus pula dipertimbangkan waktu dan tempatnya. Sebab meski isi perkataan itu benar, jika tidak pada tempatnya tetap saja dipersalahkan. Pembicaraan jama’ah itu terlarang, misalnya, ketika khatib sedang berkhutbah. Meski yang dibicarakan si jama’ah tadi itu baik dan benar. Sanksinya amat tegas. Sabda Nabi -bagi si pelaku- fa la jum’ata lahu (maka tidak ada Jum’at baginya). Sebagian ulama memahaminya sebagai ‘tidak memiliki pahala shalat Jum’at’. Ketika itu, tugas seorang jama’ah memang hanya mendengarkan. Dalam setiap kesempatan pun, hendaknya kita selalu menyadari posisi kita. Apakah kita diperkenankan bicara atau tidak.
Termasuk mempertimbangkan waktu dan tempat adalah tidak membicarakan kegembiraan di tempat berkabung. Sebagaimana rasanya tidak pantas membicarakan kesedihan di tengah-tengah pesta. Kata pepatah Arab, setiap tempat ada pembicaraan. Li kulli maqam maqal.
Oleh karena itu, sekali lagi, tidak ada jalan lain kecuali kita pandai-pandai memelihara lisan. Senyatanya bagus, kalau kita bisa menabur kebaikan melalui lisan. Tentu merupakan amal shaleh dan amat mulia jika lisan kita dapat menjadi wasilah taqwa bagi orang lain. Tetapi jika kita khawatir salah omong, alih-alih menda-tangkan kemuliaan malah akan menyulut permusuhan, juga membahayakan diri sendiri, maka sebaiknya kita diam saja. Atau lebih tepatnya, diamlah jika tidak bisa berkata benar. Biarlah disebut pendiam. Sebab diam tidak akan mengurangi kemuliaan kita. Bahkan sebagaimana dikatakan para sufi, diam adalah salah satu tanda kearifan.
Tetapi tentu saja bukan diam dalam sembarang waktu. Sebab jika kita diam saat ditanya seseorang, atau mulut kita terkunci ketika kemunkaran kian merajalela, entah bagaimana jadinya? Wallahu a’lam.***




Pairan