Makna Qurban

DI USIANYA yang sudah tidak muda lagi, Nabi Ibrahim as berdo’a agar dianugerahi keturunan yang shalih. Allah swt mengabulkan do’anya dengan menganugerahinya seorang putera dari rahim Hajar. Bahkan bukan sembarang putera melainkan putera yang amat sabar. Mendapat anugerah itu Ibrahim benar-benar gembira tak terperikan.

Ismail, demikian nama sang anak, tanpa disadari telah tumbuh menjadi sumber kebahagiaan tersendiri bagi Ibrahim. Sang Nabi pun diingatkan agar anak yang amat disayanginya itu tidak membuat ia lupa atas Tuhannya. Oleh karena itu melalui sebuah mimpi, Nabi Ibrahim as diperintah Allah untuk menyembelih Ismail, sang putera tersayang itu.

Nabi Ibrahim as dengan cepat menyadari keadaan dirinya. Dengan penuh keyakinan, mimpi itu ia sampaikan kepada sang anak. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada ayah; insya Allah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (QS. al Shafat [37]: 103).

Peristiwa yang amat dramatis itu kemudian diabadikan oleh Allah melalui syari’at qurban, yakni pemotongan hewan pada Hari Raya Iied al-Adha serta hari tasyriq.

Mayoritas ulama memandang syariat Qurban ini sebagai sunnah muakkad. Sedangkan Imam Abu Hanifah memandangnya wajib. Menurut Fikih Abu Hanifah, wajib berada di bawah fardhu.

Syari’at kurban demikian penting dalam Islam. Sampai-sampai Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai keleluasaan untuk berkurban tetapi tidak melakukannya, maka jangan dekat-dekat dengan tempat sholat kami” (HR Ibn Majah dan Ahmad).

Kata Qurban sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti pendekatan. Dalam konteks ini qurban berarti taqarrub ila Allah (pendekatan kepada Allah). Makna itulah yang telah ditampilkan Nabi Ibrahim as, ketika dengan keteguhan dan keikhlasan hati beliau memegang pisau di atas leher sang anak, demi kepatuhan dan kecintaannya kepada Allah. Memotong leher putra tersayang itu memang tidak jadi, sebab tempat Ismail itu digantikan oleh domba (QS. al Shafat [37]: 107).

Ibrahim, melalui peristiwa tersebut telah membuktikan dirinya sebagai hamba yang taqwa dan ikhlas. Berani menyingkirkan apapun untuk mendapat cinta Tuhannya. Bahkan dengan ‘menyingkirkan’ sang anak tersayang sekalipun. Demikianlah arti taqarrub dan demikian pula makna cinta; dan Ibrahim memang benar-benar telah membuktikan cintanya kepada Rabb pemelihara semesta alam. Ibrahimpun kemudian ditahbiskan sebagai kekasih-Nya. Khalilullah, demikian ibrahim diberi gelar oleh Allah. Khalilullah, sebuah kata Arab yang jika diterjemahkan berarti ‘kekasih Allah’. “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu), “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim (QS. al Shafat [37]: 108-9).

Seorang muslim akan sadar betul bahwa kecintaan kepada Allah harus di atas segala-galanya. Rintangan-rintangan untuk mencintai dan dicintai Allah itu, oleh karenanya harus disingkirkan. Mesti dikorbankan. Jabatan, kekayaan, bahkan anak sebagaimana dicontohkan Ibrahim.

Ibrahim, tak pelak lagi telah berkorban dengan didasari oleh ketaqwaan dan rasa ikhlas. Dalam makna demikianlah, antara lain, kita mesti memaknai qurban. Sebab sebagaimana kata al- Qur’an, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. al Hajj [22]: 37. Wallahu A’lam.***

Pairan

Teu acan aya anu mairan. Sumangga baladah.

Kantunkeun Balesan