<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hilman Saepullah</title>
	<atom:link href="http://hilman.nasrulweb.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hilman.nasrulweb.com</link>
	<description>Menulis</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Oct 2011 18:34:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Do’a dan Dzikir Sebelum Tidur (1)</title>
		<link>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/do%e2%80%99a-dan-dzikir-sebelum-tidur-1/</link>
		<comments>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/do%e2%80%99a-dan-dzikir-sebelum-tidur-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 18:33:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hilman Saepullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berdzikir dan Berdo'a]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilman.nasrulweb.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Dari Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw. jika mendatangi tempat tidur (hendak tidur) setiap malamnya, beliau merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian ditiup dan dibacakan padanya Qul huwallau ahad, Qul Audzubirabbil falaq, dan Qul Audzubirabbinnas. Lalu dengan kedua telapak tangan itu, diusaplah bagian tubuh yang dapat dijangkau; mulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Hal itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Aisyah ra. bahwasanya Nabi saw. jika mendatangi tempat tidur (hendak tidur) setiap malamnya, beliau merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian ditiup dan dibacakan padanya <em>Qul huwallau ahad</em>, <em>Qul Audzubirabbil falaq,</em> dan <em>Qul Audzubirabbinnas</em>. Lalu dengan kedua telapak tangan itu, diusaplah bagian tubuh yang dapat dijangkau; mulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Hal itu dilakukan sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari).<a title="" href="#_edn1">[i]</a><span id="more-33"></span></p>
<p>Ketiga surat yang dibaca tersebut adalah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p dir="RTL">بسم الله الرحمن الرحيم. قُل ْهُوَاللَّهُ أَحَدٌ. اللَّهُ الصَّمَدُ. لَم ْيَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّغَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّالنَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ. بسم الله الرحمن الرحيم. قُلْ أَعُوذ ُبِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>(Bismillahirrahmanirrahim). Qul huwallahu ahad. Allahush-shamad. Lam yalid wa lam yulad. Wa lam yaqullahu kufuwan ahad. (Bismillahirrahmanirrahim). Qul audzu birabbil falaq. Min syaari ma khalaq. Wa min syarri ghasiqin idza waqab. Wa min syarrinnaffatsatifil uqodi wa min syarri hasidin idza hasad. (Bismillahirrahmanirrahim). Qul audzubirabbinnas. Malikinnas. Ilahinnas. Min syarril waswasil khannas. Alladzi yuwaswisu fi sudurinnas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Katakanlah: &#8220;Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.&#8221; (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Katakanlah: &#8220;Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhuldan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.&#8221; (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Katakanlah: &#8220;Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.</em><em></em></p>
<p align="center">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>SURAT <em>al-Ikhlas</em>, surat yang pertama dibaca, dinamakan surat cahaya (<em>al-nur</em>) dan surat iman (<em>al-iman</em>).<a title="" href="#_edn2">[ii]</a> Surat tersebut, kata Nabi saw, sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.<a title="" href="#_edn3">[iii]</a> Adapun surat<em> al-Falaq dan al-Nas,</em> dua surat yang disebut terakhir, dinamai<em> al-mu’awwidzatayn </em>(dua surat perlindungan). Nama itu diambil dari awal kedua surat tersebut yang menggunakan kata <em>audzu</em> (aku berlindung).<a title="" href="#_edn4">[iv]</a> Rasulullah saw mengatakan bahwa dua surat itu merupakan surat paling utama untuk memohon perlindungan.<a title="" href="#_edn5">[v]</a></p>
<p>Menurut hadis tadi, bahwasanya Nabi saw sebelum tidur senantiasa membaca ketiga surat ini, ‘meniupkannya’ pada telapak tangan dan mengusapkan kepada badannya.</p>
<p>Kata ‘meniupkan’ merupakan terjemahan dari kata ‘<em>nafatsa</em>’ sebagaimana bunyi teks asli hadis tersebut. Penulis <em>Lisan al-Arab</em>, dan para penulis kamus lainnya, mengatakan bahwa <em>nafatsa</em> (mashdarnya, <em>al-nafts</em>) itu serupa <em>al-nafkh</em> (meniup), ia di bawah <em>al-tafl</em>. Jika <em>al-tafl</em> itu meniup disertai ludah, maka <em>al-nafts</em> itu meniup tanpa ludah.<a title="" href="#_edn6">[vi]</a> Namun, al-Hafizh, penulis <em>Syarh Shahih Bukhari,</em> tidak sependapat dengan yang menyatakan <em>nafats</em> itu meniup tanpa ludah, sebab menurut beliau, makna <em>nafatsa</em>, yang benar, adalah meniup dengan sedikit ludah.<a title="" href="#_edn7">[vii]</a></p>
<p>Konon ada ulama yang melarang <em>al-nafts</em> secara mutlak, seperti al-Aswad bin Yazid, salah seorang tabi’in. Dalam hal tersebut, ia berpegang kepada firman Allah: “<em>dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus</em> (al-naffatsati)<em> pada buhul-buhul” (QS. Al-Falaq [113]: 4. </em>Demikian pula ada yang memandangnya makruh, jika menggunakan ayat al-Qur’an, seperti Ibrahim al-Nakhai. Tetapi kedua pendapat itu ditepis oleh al-Hafizh. Melarang <em>al-nafts,</em> karena merupakan salah satu cara tukang sihir dalam menyihir, tidak dapat dipahami. Sebab yang dilarangnya adalah sihirnya, bukan meniupnya (menghembuskannya). Sedangkan yang memandang makruhpun –jika menggunakan ayat al-Qur’an- tidak dapat diterima, mengingat Nabi saw mengajarkannya. Salah satunya seperti tampak jelas dari hadis di atas, yaitu dengan tiga surat dari al-Qur’an.<a title="" href="#_edn8">[viii]</a></p>
<p>Memerhatikan teks hadis tadi, dapatlah dikatakan bahwa Nabi saw meniup kepada tangannya terlebih dahulu, kemudian beliau membaca ketiga surat tersebut. Menurut Al-Mu<span style="text-decoration: underline;">zh</span>hiri, sebagaimana dikatakan al-Ainiy, barangkali si periwayat lupa, sebab meniup sebelum membaca tidak ada faidahnya. Seyogyanya meniup itu setelah membaca surat tadi, agar <em>barakah</em> bacaan itu sampai kepada kulit yang membacanya, dan objek yang diusapnya. Menanggapi hal tersebut al-Thibi mengatakan bahwa tidak boleh menganggap cacat sebuah riwayat yang sah. Sebab bisa saja, pengertian hadis itu serupa dengan Firman Allah, <em>“faidza qara’ta al-qur’an fasta’idz billahi min al-syaithan al-rajim” </em>(Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk). (QS. Al-Nahl [16]: 98). (Kata <em>‘qara’a’</em>, sebagaimana kita maklum, pada asalnya berarti ‘telah membaca’, tetapi sebagaimana ditegaskan para ahli tafsir, dalam ayat tersebut kata “<em>qara’a”</em> diartikan sebagai “akan membaca”.) Atau barangkali rahasia meniup dahulu sebelum membaca agar berbeda dengan perilaku para penyihir. Jawaban al-Thibi ini menegaskan bahwa tidak ada yang keliru dengan redaksi hadis. Sedangkan al-Hafizh mengatakan bahwa meniupnya itu ketika membaca. <em>Wallahu a’lam</em>.<a title="" href="#_edn9">[ix]</a></p>
<p>Jika mengikuti paparan tadi, maka seseorang yang hendak tidur itu seyogyanya merapatkan kedua tangannya, lalu membaca ketiga surat tadi, yaitu QS. <em>al-Ikhlas </em>[112]: 1-4<em>, </em>QS. <em>al-Falaq</em> [113]: 1-5<em>, dan al-Nas</em> [114]: 1-6). Setelah itu –atau dan-, meniupkannya kepada tangan tersebut dengan disertai sedikit ludah. Kemudian mengusapkannya kepada anggota tubuh yang bisa dijangkau; dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan.</p>
<p>Melalui pembacaan do’a tadi, seseorang yang hendak tidur itu menegaskan atau mengakui dengan sepenuh hati tentang keesaan Allah, dan ketergantungan dirinya sepenuhnya kepada Allah, memohon perlindungan dari kejahatan makhluk-makhluknya, dari kejahatan malam, kejahatan si pendengki ketika ia mendengki (<em>hasud</em>), dan kejahatan tukang sihir. Selain itu ia juga memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan syetan, jin, dan manusia.</p>
<p>Kaitannya dengan memohon perlindungan dari kejahtan malam, pak Quraisy mengatakan memang malam biasanya menakutkan. Karena seringkali kejahatan dirancang dan terjadi di celah kegelapannya; baik dari pencuri, perampok, maupun dari binatang buas atau berbisa. Tetapi, lanjut beliau, malam tidak selalu melahirkan kejahatan, sebab ia juga dipuji<em>: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyu’ dan bacaan di waktu itu lebih berkesan” (QS. Al-Muzzammil [73]: 6).</em><a title="" href="#_edn10">[x]</a></p>
<p>Menurut hadis yang diriwayatkan dari Aisyah ra., ketiga surat tersebut dibaca pula untuk mengobati yang sakit, juga -dalam hadis Qatadah ra.- untuk perlindungan secara umum. Mengenai hal tersebut, akan diterangkan nanti pada bagian “Dzikir dan Do’a Seputar Sakit”, <em>Insya Allah.</em>[]</p>
<div>
<p>&nbsp;</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ednref1">[i]</a> Bukhari, <em>al-Jami’ al-Shahihh,</em> hadis nomor 4630. Lihat pula Abu Dawud, hadis nomor 4397, Tirmidzi, hadis nomor 3324.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref2">[ii]</a> Al-Alusiy, <em>Tafsir Ruh al-Maan</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref3">[iii]</a> Lihat Shahih Muslim, hadis nomor 1836, dan 1838, dan 1839. Pada hadis nomor 1839 disebutkan, <em>“Dari Abu Hurairah ra beliau berkata, Rasulullah saw keluar kepada kami, beliau berkata: ‘Akan saya bacakan untuk kalian sepertiga al-Qur’an. Kemudian beliau membaca ‘Qul huwallahu ahad Allahushshamad…hingga akhir ayat tersebut”</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref4">[iv]</a> Qurasih Shihab, <em>Hidangan Ilahi: Ayat-ayat Tahlil</em>, halaman 177. Al-Ikhlas juga bisa dikatakan bagian dari surat mohon perlindungan tersebut. Dalam kaitan ini ketiga surat itu disebut al-mu’awwidzat (surat-surat perlindungan). Lihat Fath al-Bari li Ibn Hajar.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref5">[v]</a> Lihat al-Thabrani, <em>al-Mu’jam al-Kabir,</em> hadis nomor 493.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref6">[vi]</a> Ibn Manzhur, <em>Lisan al-Arab. </em>Lihat pula misalnya <em>Tahdib al-Lughah, </em>dan<em> Muhtar al-Shihah</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref7">[vii]</a> Lihat al-Hafizh, <em>Fath al-Bari</em>, pada Bab al-Nafts fi al-Ruqyah”.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref8">[viii]</a> Lihat al-Hafizh Ibn Hajar, <em>Fath al-Bari</em>, pada bab al-Nafts fi al-Ruqyah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref9">[ix]</a> Lihat Tuhfah al-Ahwadzi, pada hadis nomor 3324. Lihat pula Ibn Hajar, Fath al-Bari, pada hadis nomor 5307.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ednref10">[x]</a> M. Quraish Shihab, <em>Hidangan Ilahi Ayat-Ayat Tahlil</em>, (Jakarta: Lentera Hati, 1997), hal. 200. Mengenai tafsir lebih lanujut mengenai ketiga surat tersebut, baca bukunya yang ini.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/do%e2%80%99a-dan-dzikir-sebelum-tidur-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ang</title>
		<link>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/ang/</link>
		<comments>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/ang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 18:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hilman Saepullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ma Ana Bisya'ir]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[syair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilman.nasrulweb.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[(Untuk Muhammad Adam al-Faqih) Ang Bulan semangkuk Pekat menyingkir ke dalam belukar Ang Ayyam al-biyd Di tiga siang ada menahan Ang … Dede, Ang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>(Untuk Muhammad Adam al-Faqih)</p>
<p>Ang<br />
Bulan semangkuk<br />
Pekat menyingkir ke dalam belukar</p>
<p>Ang<br />
<em>Ayyam al-biyd</em><br />
Di tiga siang ada menahan</p>
<p>Ang<br />
…</p>
<p>Dede, Ang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/ang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Permata Hikmah 1</title>
		<link>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/permata-hikmah-1/</link>
		<comments>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/permata-hikmah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 18:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hilman Saepullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Permata Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hilman.nasrulweb.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[الرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ وَإِلاَّ فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ. Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan, kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan belaka (Ibn Atha’illah, al-Hikam).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL">الرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ وَإِلاَّ فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ.</p>
<p>Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan, kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan belaka (Ibn Atha’illah,<em> al-Hikam</em>).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hilman.nasrulweb.com/2011/10/27/permata-hikmah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

